RSS
Video

Embracing spring that comes

 
Leave a comment

Posted by on April 9, 2014 in Uncategorized

 

Tags:

Not superhero

So, after been years since i graduated from my bachelor, I realized that  i am not and never been a superhero who can change the world. Me is just a common human being like you who should get up early in the morning, takes some time to prepare the breakfast and also for my lunch, takes couple of minutes to dress up, making my room tidy, get back to work, understanding the pdf ( even i should not write this article and should go back to read the pdf instead), etc. I am not a very smart person just a mediocre. It is true I was once in acceleration class in high school, got a scholarship for my master degree. But still, there are many people who are much smarter and more genius than me, who are more religious (and for this one i take as important as being successful) than me.

Why i write this lame and uninteresting story ? This begins with a cynical comments made by someone in a socmed regarding my post about the legislative campaign. I reposted a useful link about how to filter a potential legislative so we can dig down the research deeply. This simple yet very useful link is basically based on google docs which can filter certain characteristic so in the end we just have not more than 10 candidates to be chosen. Of course, the characteristics are subjective, so anyone may create their own characteristic. As we all know, in the democratic system perceived in Indonesia, everyone can make their opinion (as long as you are more than 17 y.o or you are married). So, just make your own instead of spending your energy criticizing what others effort to introduce for not being “no vote”

However, it turned out someone criticizes my post for being too rigid, not very representative. blablabla…Truthfully, I giggled when reading this comment and chuckled, “watch out, we got a sensitive-democratic-superhero wannabe here.. Kikikik..”. I want to play around with this person actually. But i feel pity. This person is still young and they dont deserve to be played.

One thing to remember, dear fellas, by the time you grow, later. There will be a moment that you realize, our time is limited. There’s no time to talk about other than great ideas, sharing knowledge and respect others. As we can not change the world with only our own, we need to put respect to others, Not because they are older than you, or have a higher social status. But it’s just because we should have a presumption, each of us, that, “may be there is something i don’t know and i can learn from you”. Remember, We are not superhero.:)

 
Leave a comment

Posted by on April 1, 2014 in Uncategorized

 

1st progress meeting

So,  Finally the progress meeting has passed. I described everything i had done in a nutshell. Emphasizing to connect more than 200 tags, retrieving so much data each time clock are necessary, i believe. It went pretty well despite there were corrections on plotting the data into the excel file.  it was fine as the data i plotted was not supposed to be the real data. we still have the license problems. (which i do hope they will fix it today). To be frank, I was not supposed to be presenting this time. However, I force myself to do that as the supervisor seems very kind, as yet with this type of supervisor will not take my anywhere. So, after applying a job application berfor its due, I managed (surprisingly) to write the code in Matlab. Although i had no idea what i was writing.

After all, the meeting was not nearly perfect. It was fine, i answered all the questions addressed to me, but I have to admit that i did some trivial mistake. I put some dummy data (which i was not supposed to, if i don’t want to be questioned). So, the interrogation kicked off on the absurdity of my graph ( that i should have put the power profile, not the energy profile), which also leads to the choice of the model, and ended up with a doubt if I carefully studied my data. Oh well.

Of course during the presentation i tried my best to defense my line, in order for me to give the whole idea. However deep down i realized how careless am I to pick some random data without being considerate. It touches my sensibility in a sense of self question, will i be able to be good energy economist one day ? Fiuhh.. anyway, i should not be too hard for myself, i guess.

So, to relaxe a lil bit, i think cooking will be a cure.. :))

Alhamdulilah.. During this spring moments, i guess its too unfortunate if we took that serious.. :))

 

 
Leave a comment

Posted by on March 31, 2014 in Uncategorized

 

Ekonomi Energi Indonesia & Perubahan

Tahun 2014 menjadi tahun politik untuk Indonesia. Setidaknya, ada dua perhelatan besar yang menjadikan tahun 2014 menjadi tahun bersejarah layaknya dimana tahun-tahun pemilu digelar. Ya tahun ini dua pemilu akan digelar serentak di seluruh pelosok daerah di Indonesia, satu pemilu untuk pemilihan anggota legislatif, baik pusat maupun daerah, pemilu lain untuk memilih presiden dan wakil presiden masa bakti 2014-2019. Lazimnya dalam setiap tahun pemilu, berbagai harapan akan pengelolaan Indonesia yang lebih baik mengemuka  seiring bergantinya pemimpin dan wakil rakyat di parlemen. Bak gayung bersambut, janji-janji kampanye yang dilontarkan oleh para caleg dan capres di masa kampanye seperti menjawab keinginan konstituen.  Tak ketinggalan media pun menyanyikan lagu yang sama : perubahan untuk 5 tahun ke depan. Namun demikian, diantara janji janji itu, berapa persen komitmen calon pemimpin yang menghiasi baligo ini akan menyiapkan ketahanan energi Indonesia ke depan ?

Awal tahun ini di World Economic Forum, Global Energy Architecture Performance mengeluarkan rilis 10 negara terbaik di dunia dalam hal ketersiapan menghadapi kebutuhan energi masa depan yang ditinjau dari tiga perspektif: pertumbuhan ekonomi suatu negara, ketersediaan energi ramah lingkungan  dan ketahanan serta akses energi yang mudah. Di urutan pertama, Norwegia dengan skor 0.75 dari skor maksimal 1.00 mengungguli 123 negara-negara lainnya.  Hal ini bukan hanya disebabkan oleh ketersediaan sumberdaya energi konvensionalnya saja, tapi political will pemerintah Norwegia dalam pengembangan energi terbarukan, khususnya tenaga air dan gelombangnya terbukti mampu memberikan kontribusi terhadap kebutuhan domestik energinya. Indonesia sebagai negara tropis dan kepulauan sendiri hanya memperoleh skor 0.52 poin, menempati posisi  ke 63 bersama sama dengan singapura, tertinggal di bawah Thailand dan sedikit di atas Filipina.

Sudah menjadi konsekuensi logis, peningkatan ekonomi dengan tren positif memerlukan pertumbuhan energi yang pesat pula. Setidaknya ketersediaan energi akan mengikuti faktor dua kali lipat lebih tinggi seiring pertumbuhan ekonomi di berbagai sektor, khususnya di sektor industri yang mensyaratkan energi intensif. Menurut data BPS per Februari 2013, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat mencapai 5,78%. Pertumbuhan yang cukup tinggi di tengah krisis ekonomi yang menghantam sejumlah negara-negara di Eropa. Seiring dengan pertumbuhan penduduk yang bertambah dari tahun ke tahun serta peningkatan di sektor transportasi tak pelak mengakibatkan konsumsi energi final yang signifikan mencapai 1.044 juta setara barel minyak di tahun 2011 dengan laju pertumbuhan rata-rata 2.87% per tahun. Komponen konsumsi energi final yang tertinggi disumbang oleh sektor industri sebesar 37,2% dan kemudian disusul di sektor rumah tangga sebesar 30,7% (data BPPT 2013). Sayangnya dari sisi supply, data WoodMackenzie memperlihatkan dengan iklim investasi dan regulasi sekarang, produksi migas diproyeksikan akan mengalami penurunan yang signifikan sebesar 4 kali lipat di tahun 2020 mendatang setelah lifting minyak Indonesia hanya mencapai 826 ribu barel per hari di tahun 2013.

Quo Vadis Kebijakan Energi Nasional ?

Baru-baru ini pemerintah Indonesia mengesahkan peraturan presiden (perpres) nomor 1 tahun 2014 tentang rencana umum energi nasional. Peraturan ini menguatkan Undang-undang nomor 30 tahun 2007 sebelumnya tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang memproyeksikan Bauran Energi Nasional di tahun 2025, dimana porsi energi baru dan terbarukan diharapkan dapat berkontribusi sebesar 17% dari total konsumsi energi. Pengesahan perpres ini diharapkan bisa menjadi instrumen legal pengejawantahan rencana energi nasional yang sebelumnya telah dirumuskan dalam Kebijakan Energi Nasional 2025. Tidak hanya itu saja, disahkannya perpres ini disambut positif oleh profesional yang bergerak dalam energi, khususnya penggiat energi terbarukan. Meskipun pandangan miring akan keseriusan pemerintah tetap ada karena penerbitan perpres ini tidak diiringi dengan alokasi anggaran khusus dalam APBN, penulis berpendapat langkah pemerintah ini perlu mendapat apresiasi sebagai bentuk konsistensi pemerintah menaikkan porsi energi terbarukan di bauran energi nasional.

Mengapa Energy Mix ?

Amory Lovins dalam bukunya, “Soft Energy Path: Towards a durable peace” mengemukakan “Soft Energy” yang meliputi tenaga surya, angin, biofuel, panas bumi, dan sumber energi terbarukan lainnya menekankan efisiensi energi sebagai kunci untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Sedangkan “Hard Energy ” yaitu energi konvensional, membutuhkan teknologi yang padat modal dan tidak ramah lingkungan. Lovins menjelaskan bahwa perbedaan paling mendalam antara soft path dan hard path adalah dampak sosial- politik yang berbeda sebagai akibat dari masing masing pilihan. Lovins mengatakan, kedua path ini akan diikuti oleh dampak sosial masing-masing, namun demikian perubahan sosial yang diakibatkan oleh hard path cenderung kurang menyenangkan, kurang kompatibel dengan asas keragaman sosial dan prinsip kebebasan memilih dan juga konsistensi dengan nilai-nilai tradisional dibandingkan dengan soft path. Akses terdekat ke energi final dengan penggunanya (end user) pun akan memicu rasa kepemilikan sehingga dengan begitu efisiensi energi lebih mudah untuk dilakukan. Contoh sederhana, tentunya kita lebih menghargai nilai sebuah energi bila pemandangan pembangkit energi menjadi pemandangan yang biasa dilihat.

Pada akhirnya, ketahanan energi dicapai dengan tidak hanya bergantung pada salah satu sumber energi saja. Negara maju seperti norwegia memiliki energy mix yang seimbang satu dan lainnya. Keterhandalan, kesediaan dan kemudahan akses energi menjadi faktor penting ketahanan energi untuk memasok pertumbuhan ekonomi yang terus tumbuh, apalagi  untuk kasus negara berkembang seperti Indonesia. Lebih jauh lagi, ketahanan energi juga perlu memperhatikan kondisi luar biasa seperti kondisi darurat perang sehingga perlunya pertimbangan penggunaan energi sesuai dengan sifat dari energi itu sendiri, seperti fasilitas penyimpanan minyak yang mampu memasok 90 hari dan lain-lain.

Wakil Presiden Boediono dalam kuliahnya di Univerisitas Leiden baru-baru ini menyebutkan setidaknya ada 3 komponen utama yang perlu menjadi perhatian untuk kemajuan Indonesia, khususnya ketahanan energi Indonesia. Tiga hal itu adalah infrastruktur, human capital dan institusi. Lalu selagi masa kampanye di tahun perpolitikan Indonesia ini, dari sekian banyak spanduk dan baligho caleg dan capres, pertanyaannya siapa saja yang masih menyanyikan lagu lama ?

Referensi :

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Outlook Energi Indonesia 2013. Company Report, Jakarta: BPPT, 2013.

Badan Pusat Statistik. Beranda : Badan Pusat Statistik. 2012. http://www.bps.go.id/ (accessed March 26, 2014).

Energy Industry Partnership. “The Global Energy Architecture Performance Index Report 2014.” World Economic Forum Web site. December 2013. http://reports.weforum.org/global-energy-architecture-performance-index-2014/ (accessed March 26, 2014).

Lovins, Amory. Soft Energy Path: Towards a durable peace. 1976.

Presiden Republik Indonesia. Peraturan Presiden No 1 Tahun 2014. Jakarta, 2014.

WoodMackenzie. Indonesia’s Supply Future Outlook. Jakarta, 2013.

 

 
Leave a comment

Posted by on March 26, 2014 in Uncategorized

 

STOP Bullying !

Sebenarnya saya ga mau memperpanjang hal ini, karena sebenarnya ybs tidak berurusan dengan saya, dan saya tidak punya masalah pribadi. Tapi ada hal yang mengusik saya yang cukup mengganggu secara prinsip karena saya jadi teringat dengan aktifitas yang namanya:  Bullying.

Baiklah, supaya clear apa maksud dari bully itu, berikut definisi versi wikipedia yang saya copy paste :

Bullying is the use of force, threat, or coercion to abuse, intimidate, or aggressively impose domination over others. The behavior is often repeated and habitual. One essential prerequisite is the perception, by the bully or by others, of an imbalance of social or physical power. Behaviors used to assert such domination can include verbal harassment or threat, physical assault or coercion, and such acts may be directed repeatedly towards particular targets. Justifications and rationalizations for such behavior sometimes include differences of class, race, religion, gender, sexuality, appearance,behavior, strength, size or ability.If bullying is done by a group, it is called mobbing.[4] “Targets” of bullying are also sometimes referred to as “victims” of bullying.

Awalnya saya agak kurang percaya bully bisa terjadi di orang dewasa, karena yang biasa saya pernah dengar itu bullying di kalangan anak SD, masa preadolescent, dan khususnya terjadi di masa menjelang remaja. Tapi ternyata kalau liat definisi di atas ini, perilaku bullying bisa terjadi di kalangan orang dewasa. Saya juga masih tidak percaya sebenarnya ini bisa terjadi. Tapi riset kecil-kecilan yang saya buat, Elizabeth Benneth mengeluarkan buku tentang abuse di workplace, “Bullies may develop personality issues such as narcissistic and anti-social personality disorders as adults” seperti di tautan berikut inihttp://www.newswiretoday.com/news/29519/

Di sisi lain, perilaku agitasi boleh dibilang termasuk menjadi salah satu aktifitas bullying kalau lihat dari definisi di atas di luar tempat dan waktu yang sangat berbeda (i.e. perploncoan saat ospek ?). Tapi kalau hal ini terjadi di luar aktifitas ospek dan perploncoan masuk sekolah baru, apa itu bukan namanya bully juga ?

Terakhir, seperti kita ketahui Prancis adalah negara yang sudah mengatur adanya hukum tentang aktifitas bullying. jadi sebenarnya kalau pun mau membawa permasalahan ini ke pihak berwajib, atau mau mengkonsultasikannya supaya dapat penjelasan yang lebih akurat, boleh boleh saja sebenarnya. But then, it is for you to choose.

In any case, semoga dengan tulisan ini jadi mengingatkan kita untuk bisa sama sama mencegah adanya perilaku bullying ini ke depannya. Saya termasuk yang tidak suka adanya hegemoni atau tindakan offensive seseorang pada orang lain apalagi dengan alasan yang sama sekali tidak objektif.

 
Leave a comment

Posted by on February 8, 2014 in Uncategorized

 

Tugas paling juara

The most challenging yet horrible assignment for this semester should be given to Carbon Market course with its short and  straight forward question :

If you, one day, will be able to put yourself as minister of energy/finance in one of EU countries, what policies would you suggest to improve CO2 emission abatement ?

What a great question ! truthfully, I have no idea to suggest *sorry sir* as from what he was saying during class session *in a very short time*, the EU ETS is really complicated stuff with its high demand has been put at stake. I read many articles again and again without knowing how many readings should I observe more and more to give the overview to understand what is happening and put in perspective in european economic condition

The thing is, it is not that i was lost completely during the class (which to be honest, i was, but not completely). However, many economic terms, such as trading scheme, emission allowance, windfall profits have staggered me to get what all those terms have something to do to save the world for a better future, huh ?

I would be very glad if i can simply write in my piece of paper that, Sir, let just do what the policies have been made now. It is a very good initiative which my country have not ever yet thought about that.

If i do so, i would look so stupid, wouldnt i ? Hem meh..

 
1 Comment

Posted by on February 8, 2014 in Uncategorized

 

Belajar mencintai Indonesia

Penantian panjang berminggu-minggu latihan berakhir sudah. Perhelatan Soiree Indonesienne yang pertama kali digelar PPI Nantes mampu menghipnotis ratusan pengunjung yang memadati gedung Cosmopolis malam minggu pertama di bulan Februari itu. Rakyat Nantes disuguhi pertunjukan dan pameran yang berbeda dari biasanya. Pergelaran kultur sebuah negara di asia tenggara yang unik & kaya.

Malam itu menjadi malam yang tak terlupakan bagi kami, mahasiswa-mahasiswa indonesia di Nantes. Tapi kawan, daripada kugambarkan betapa penuhnya ruangan Cosmopolis saking padatnya manusia malam itu, mari kuceritakan dulu padamu bagaimana aku bisa menjadi salah satu penari didalamnya. Tak pernah terpikir dalam benakku, di tanah perantauan yang jaraknya ribuan kilometer jauhnya dari tanah kelahiran, aku harus belajar menari, ya menari tarian silek gelombang pasembahan. Harus kuakui, tak pernah ada riwayat menari dalam sejarah perjalanan hidupku. Kalaupun ada, ah dulu hanya menari untuk acara tujuhbelas agustusan di komplekan rumah dengan gerakan-gerakan sederhana saja. Jangan harapkan ada piala yang menghiasi furnitur reyot di rumah tua kami. Sekarang aku harus menari dihadapan ratusan pasang mata orang Prancis dan juga Bapak duta besar Indonesia untuk Prancis. Alamakjang !

Tarian minang itu memang unik. Gerakan gerakan maskulinitas yang mewarnai tarian gelombang pasembahan kurang lebih banyak mengadopsi gerakan-gerakan pencak silat, begitu kata pelatih kami. Tapi kawan, jangan dikira gerakan tarian pasembahan ini mudah, posisi setengah berdiri dengan satu kaki, sinkronisasi kepala dan kaki dengan musik, dan yang paling sulit menyeimbangkan badan agar tidak jatuh rasanya cukup membuat otot otot bagian paha terlatih sempurna. Minggu pertama latihan, bukan hanya badan kami yang sakit dan pegal-pegal, tapi  hati kami pun tersayat demi mendengar musik melayu yang mendayu-dayu. Kisah pelajar mengenalkan budaya di tanah rantau memang selalu tragis.

Beberapa hari sebelum hari-H, teman kelasku dari Brazil sempat berceletuk, “Menarik, kalian latihan tarian ini setelah merantau begitu jauhnya di tanah Prancis”.  Malu aku dibuatnya, kawan. Dulu aku memang tak pernah terpikir untuk ikut kursus tambahan tarian daerah. Kesibukan dan prioritas selalu menjadi alasan andalan. Tapi, setelah terasing dari orang-orang kebanyakan, rasa bangga dan cinta bangsa dan tanah air itu tumbuh. Cuplikan video yang menggambarkan kekayaan budaya dan sumber daya alam menggetarkan hatiku. Sontak pujian berdatangan malam minggu itu, baik dari penduduk asli Nantes dan juga para tamu kehormatan yang membuatku menyeka mata berkali-kali. Betapa aku ingin belajar lagi mencintai tanah airku ini.

Kawan, perhelatan besar Soiree Indonesienne di Nantes ini memberiku banyak pelajaran. Salah satunya adalah belajar mencintai harus dimulai dengan belajar untuk peduli. Peduli dengan permasalahan yang ada di sekitar kita. Bukan acuh tak acuh saja. Belajar peduli juga berarti belajar untuk mendengarkan dan menghargai orang lain. Sadar diri tanpa kemauan orang lain untuk mau bekerja sama dan berkolaborasi, tak akan mampu diri kita untuk memajukan negeri yang kita cintai ini. Seperti layaknya harmoni dalam suatu orkestra, semua mengisi dengan keahlian masing masing. Tak lupa menghargai juga berarti mengerti kelebihan dan kekurangan rekan seperjuangan dan mendukung untuk kemajuan dan kebaikan bersama.

Belajar mencintai tanah air juga berarti belajar sadar diri untuk tidak menjadi bagian dari masalah.Sering kali kita mendengar orang banyak komentar tentang permasalahan negeri, tanpa sadar mereka menjadi salah satu dari permasalahan itu sendiri. Hal ini lucu karena tanpa sadar perilaku kita belum sejalan dengan apa yang sering kita keluhkan, seperti keluhan pengendara kendaraan pribadi di tengah-tengah kemacetan, tanpa sadar bahwa dia adalah bagian dari kemacetan itu sendiri.

Terakhir kawan, “la creme de la creme” dari rasa cinta untuk Indonesia adalah belajar untuk jadi bagian solusi dari semua permasalahan yang ada. Diawali dengan peduli dan memecahkan kepingan-kepingan masalah yang terserak semua terangkai menjadi satu, menjadi solusi besar memajukan tanah air yang kita cintai. Akhirnya, biarlah tulisan ini menjadi awal baru sudah sejauh mana pembuktian rasa cinta kita pada tanah air. Sudah menjadi solusi atau masih menjadi bagian dari masalah bangsa yang kian bertumpuk-tumpuk ? Maka, bersegeralah untuk berbenah diri kawan, karena mengutip kata Anies Baswedan, “Ada kereta mimpi yang harus kita kejar”

-Erdre,Nantes, 5 February 2014

 
Leave a comment

Posted by on February 5, 2014 in Uncategorized

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.