Tuhanku Maha Pendiam
Di hangatnya mentari waktu duha..
Sehangat kasih ibu yang menyapihku saat usia kanakku..
Terduduk sepi, seraya memohon pada yang Maha agung..
Menyungkurkan sujud dalam diamku..
Berharap sepenuh asa agar Dia mendengarku. .
Duhai Allah………
Kuberseru padaMu….
Dengarkanlah aku…
Kali iniiiii saja….
Entah sudah berapa banyak air mata yang telah jatuh…
Berteriak dan melolong hanya untuk menarik perhatianMu. .
Tapi engkau hanya diam…
Diam dan tak mengeluarkan sepatah katapun…
Pernah aku bersujud lebih lama…..
Menangis terisak agar Engkau mendengarku…
Menempelkan telingaku di pusara sujudku…
Berharap engkau mengeluarkan sebuah kata yang menenangkanku. .
Hanya sebuah kata… cukup bagiku…
Menginginkan tanganMu untuk mengusap kepalaku..
Tapi Kau hanya diam…
Dan hanya anginMu yang berhembus…
Hanya angin yang kupaksa artikan sebagai jawaban dinginMu..
Entah Ya Allah,,,
Entah dengan cara apalagi agar EngKau mau berbicara padaku….
Aku malas membaca wahyuMu itu…
Yang aku inginkan hanya ingin ngobrol denganMu…. bukan membaca..
Tidak bolehkah aku pilih itu ??
Huhuhu…..
Kini aku benci padaMu…
Yang hanya diam dan melihat dari arasyMu itu..
Kucoba berselingkuh dalam-dalam tanpa menghiraukanMu…
Berharap dalam hati Kau akan berbicara atau memohonku untuk kembali…
Tapi lagi-lagi Kau hanya diam…
Lagi-lagi hanya angin yang menerpaku…
Yang lagi-lagi kupaksa artikan bahwa Engkau mengajakku kembali…
Kini aku tahu tabiatMu…
Engkau tak menjawabku.. bukan karena Engkau tak mau…
Tapi karena Engkau ingin melihatku lekat-lekat. .
Dan mendengarkan curhatanku lamat-lamat…
Agar aku mengeluarkan semua kesedihanku. .
Menyampaikan pesan dengan angin ciptaanMu…
“Aku tahu, Sudah kuhitung air matamu..”