Sendiri

Satu hal yang mungkin tidak saya sukai adalah menyendiri.

Entah rasanya tidak jelas saja, jatuhnya selalu ke mengeluh dan akhirnya tidak produktif. Lain halnya kalau bersama-sama merumuskan sesuatu dalam sebuah forum lalu kemudian dengan membawa tugas masing-masing & akhirnya menyelesaikan masing-masing secara bersama-sama. Sangat berbeda.

Saya jadi kangen masa-masa di Karisma. Sungguh momen yang tidak bisa terulang sampai kapanpun ya itu. Dimana tiap hari isinya, rapat-rapat dan rapat lagi. Hehe.. Tapi insya Allah rapatnya pun produktif.

Atau mungkin kita harus mulai memikirkan kesendirian ya, toh pada akhirnya, kita semua sendiri, menghadap pada Yang Menciptakan kita. membawa bekal yang telah kita persiapkan masing-masing.

Inflasi Maaf

1 ramadhan kan segera menjelang. Terbenamnya matahari hari ini akan menandai masuknya dimana pahala dilipatgandakan. 1 perbuatan baik diganjar 700 kali pahala, perbuatan sunnah di bulan ramadhan diganjar seperti amaliyah wajib di luar ramadhan.

Orang-orang bermaaf-maafan disana-sini, tentu saja mendadak operator telekomunikasi disibukkan dengan berseliwerannya pesan maaf, yang sekarang variannya semakin banyak, sms,telepon, ym,twitter,facebook,blast email, blog. Paling tidak momen tersibuk sekali setahun ini terjadi 2 kali, saat mulai puasa & saat lebaran.

Baru-baru ini saya mendapat pandangan skeptis tentang fenomena maaf-maafan ini. Muncul anggapan skeptisme pada adanya “inflasi maaf” dimana harga sebuah maaf menjadi begitu murahnya (istilahnya apa bukan deflasi ya ?) Apa pasal ? Saya pikir, ini ada kaitannya ketua wakil rakyat kita, MA, yang mengeluarkan pernyataan yang gonjang-ganjingnya “pemberian maaf pada koruptor”.

Ada lagi yang bilang, sebenarnya hadits rasul yang mengatakan barang siapa yg tidak meminta maaf sblm bulan puasa, maka Allah tidak akan mengampuninya, adalah hadits dhaif. Apa benar ?

Ah entahlah, tapi yang jelas, blasting maaf yang saya kirimkan, semata-mata benar saya memohon maaf pada orang yang mungkin pernah saya sakiti. Berlebihan kah ? Saya pribadi masih menganggap dalam batas kewajaran, mengingat yang sy minta maaf adalah kawan-kawan saya. Bukan orang yang sy tidak kenal. Salah momen (krn harusnya, meminta maaf dilaksanakan setelah punya salah, bukan nunggu ramadhan) ? Hmm.. Sy pikir, justru krn momen ramadhan ini, momen yang pas, momen menyucikan diri. Kalau bukan ramadhan, kapan lagi…

Anyway, my point is, tidak jadi masalah & bid’ah untuk meminta maaf dgn memanfaatkan ramadhan,slama tidak diharamkan dlm syariat (it isn’t indeed). Mau kapan lagi hati ini bisa berdamai dgn sesama makhluk selain ramadhan-lah triggernya ? Sehingga lewat keharuman &kecantikan ramadhan,biarlah ego berurai taubat, sombong dan kepongahan lebur dgn kepasrahan pada Yang Utuh. Wallahu a’lam.

Kita sudah lupa berekspresi

Ada hal lain yang lebih mengerikan tentang berseliwerannya pesan-pesan maaf di layar hp atau komputer. Salah satu pesan maaf yang saya dapat begini,

“Hey.. Mau ramadhan neeeh.. Maaapin yeee ;p..”

Ada yang salah dengan kalimat diatas ? Tentu saja tidak, apa yang salah dengan sebuah permintaan maaf ?

Tapi, apa kita sudah lupa berekspresi ? Sehingga permintaan maaf sekarang bisa diekspresikan dengan ringan,tanpa ada menyesal(setidaknya itu yg saya tangkap dr pesan diatas), ditambah icon melet-melet & mengedipkan mata.

Oh my god.. Apa mungkin kita jadi gagap dengan ekspresi pada orang,sehingga ekspresi senang dan sedih (termasuk di dalamnya menyesal) bisa bercampur aduk begini. Saya tidak menyalahkan orang yang meminta maaf, sama sekali tidak. Saya hargai itu. Meminta maaf itu membutuhkan effort yang tidak kecil. Berlaku handap asor, begitu kata orang sunda, tentu melepaskan ego orang peminta maaf.

Tapi, kalau kata salah satu iklan rokok,
Ekspresinya mana ?

Anyway,
Sekalian sy pintakan maaf buat semua pembaca blog saya, bila ada khilaf sehingga ada yang tersakiti atas posting saya di blog ini. Dari dalam hati saya, Saya harapkan anda sudi membukakan pintu maaf.

Selamat menunaikan ibadah shaum. Semoga kita semua beroleh derajat taqwa. Amiin.

Posted with wholehearted smile and warm regards

Rajin Membawa Petaka (1)

Halouu kawan-kawan..

Sudah lama tidak diurus ni blog, sy mau nulis lagi..

Kali ini saya mau cerita tentang pembantu rumah di rumah saudara sy.

Rumah saudara sy di jakarta (yang pernah sy tinggali) ini cukup strategis dan nyaman. Saya senang sekali tinggal dengan mereka karena orang-orangnya ramah-ramah.

sebutlah ada PRT yang diambil dr kampung dekat rumah mreka.mbaknya ini orangnya ga banyak omong, kerja tuntas, dan yang paling penting rajiiin banget.

Rajin ternyata tidak selalu membawa konotasi yang positif. Saking rajinnya, kadang sy ga nemu buku sy ditaruh dimana.atau beberapa malam sy harus tidur tidak pake seprei krn spreinya dicuci hampir tiap hari..

Celakanya, itu kejadian lagi malam ini. Sy tidak berseprei, ditambah lebih parah selimutpun ikut kena jadi korban kerajinannya.

Padahal, AC-nya super dingiiin.. Bbbrrrrr….

Posted with wholehearted smile and warm regards

tes

Tes tes

Posted with wholehearted smile and warm regards

Vortex Shedding Meter

After had been a while since my last posting about the field instrument, this time i would like to present another kind of instrument that is rarely used in flow measurement.

Yap, it is Vortex Shedding Meter.

As it is named, Vortex shedding meter is flowmeter that uses  vortices of flow after passing through the shedding bar. While in the downstream side, the instrument will measure the produced frequency which is linear with the velocity of the fluid. With the cross sectional of the pipe, it will give the volume rate of the fluid.

One of the Consideration to select vortex shedding meter is its high turn down ratio. Unlike the orifice that has turndown ratio in 1:3 – 1:5, Vortex has turndown ratio 1:10

—to be continued

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.