RSS

Exhausted

Jadi, sekarang ini sedang bingung mau menentukan arah langkah. Rasa-rasa nya sudah semua usaha dimaksimalkan, tapi hasilnya tidak ada. Capai dan menyesal karena back for good sering kali dirasa.

Mungkin ini gejala gejala tidak sabar kah ?

 
Leave a comment

Posted by on December 10, 2014 in Uncategorized

 

Hello world

Been almost 4 months away not to post anything here. Although many things, moments, feelings have passed, I still don’t feel to have the urge to write it down to become a post. Many reasons, in need a privacy is one of them.

So, I just wanna say hi and bye. Hihihihi…

*nyampah abis*

 
Leave a comment

Posted by on December 5, 2014 in Uncategorized

 

Happy to be home

Bahagia untuk di rumah..

Sore ini tanggal 11 agustus 2014 akan jadi hari bersejarah di kehidupan saya. Hari terakhir di turin, italia setelah menempuh studi master selama 2 tahun. Studi master yang menyenangkan, menegangkan, sepi, berbunga bunga, dan sejuta perasaan lainnya. Tak bisa dipungkiri, studi master ini juga jadi episode dramatis bagi saya karena berjauhan dengan belahan hati. Entah tak terhitung berapa banyak orang yang menanyakan mengapa kami memutuskan untuk LDR. Berbagai jawaban dan senyuman secukupnya terpaksa saya lontarkan dengan menggamit senyum, mohon doanya semoga kami cepat berkumpul..

Tak ada yang ingin LDR. Itu jelas. Klo ada yang meminta saran pada saya untuk pasangan LDR, segera selesaikan LDR, as soon as possible. Itu jauh lebih ahsan. Jauh dari fitnah. Lantas mengapa kami LDR ? Sebenarnya penjelasannya terlalu pribadi, tp klo boleh saya ringkas, pertimbangan finansial dan keluarga besar yang membuat kami untuk LDR. Mungkin penjelasan ini masih agak kabur. Paragraf berikutnya mungkin akan menjadi jelas..

Sy akan pulang, for good , kata orang orang
Banyak orang juga pertanyakan hal ini pada saya. Kenapa tdk ambil pengalaman dlu di luar barang setahun dua tahun kalau ada kesmepatan ? Ya, sy tidak menampik kalau itu pernah terlintas dalam pikiran saya. Kenapa ga ajak istri disini saja dulu…

Sy bukan tipe orang yang nasionalis, sy akui itu. Berbagai pengalaman tidak mengenakkan yg saya alami, membuat sy apatis dengan negara ini. Jadi sebenarnya poin ini membuat saya untuk tinggal di luar menjadi pilihan menarik. Tapi tidak demikian..

Sy tahu, menjadi lulusan luar negeri tidak lantas akan dihargai di dalam negeri. Lucu memang. Karena kadang, penghargaan untuk orang yg kompeten based on merit, tidak lantas ditafsirkan menjadi apresiasi penghasilan selama stigma tenaga kerja asia itu murah.

i am happy to be home.
Ya, sy pilih untuk pulang, karena alasan kuat : birrul walidain. Orang tua kami semakin tua, dan satu satunya yang membuat mereka bahagia tentu untuk bisa dekat dengan anaknya. Walaupun memang membina keluarga baru, harus ada jarak dengan orang tua. Tp paling tidak, disaat mereka rindu bertemu, mereka kapan saja bisa mengontak kami, anak anaknya. Itu yang jadi pikiran saya.

Soal rezeki, sy serahkan semua ke Allah. Sy percaya kalau Allah akan selalu memberikan rezekinya. Selama masih ada sajadah panjang untuk bersujud, malam malam panjang untuk mengadu, semoga Allah selalu menjaga keluarga kecil kami. Aamin.

Maka saya bahagia. Walaupun entah nanti sy akan banyak mengomel nantinya, entah nanti saya akan banyak menyesal nantinya. Yang penting saya bahagia besok saya pulaaaanang…

Alhamdulillah ala kulli hal..

 
Leave a comment

Posted by on August 11, 2014 in Uncategorized

 

Akhi.. ukhti.. Mengapa engkau jadi begini..

Pilpres kali ini sudah sukses menunjukkan topeng borok borok teman-teman yang dulu katanya sama sama berjuang demi dakwah,

Ada yang share tentang berita kabinet jokowi, padahal nyata nyatanya baru juga ditentukan sebagai pemenang pemilu kemarin, dan juga tidak ada berita yang me-refer kesana.

Lain lagi, ada teman yang baru kenal karena sama-sama komentar di status teman kuliah lain. Kali ini dia menuduh ustad QA penganut syiah, sesat, dll. Waktu saya challenge dengan berita-berita yang insya Allah valid, komentarnya hanyalah, mangga silahkan kalau antum berbeda pendapat, etc etc… Pasca ‘diskusi” begitu, tidak sengaja saya lihat dia masih share berita yang sama, isinya fitnah, dll..

Kenapa begini ? Kenapa tidak ada lagi rasa sedikit malu menyebarkan fitnah ? atau mungkin meminta maaf dan sadar diri kalau berita yang disebarkan belum tentu kebenarannya ?
Padahal saya kenal mereka lulusan-lulusan institut & universitas ternama. Sama-sama belajar islam yang benar, sama-sama berjuang di organisasi dakwah kampus.

Tahukah kawan, entah berapa banyak posting yang harus saya delet, hanya dengan alasan khawatir menyakiti/tidak membuat nyaman teman2 di friendlist saya. Berita yang terverifikasi bagi saya sudah jadi syarat mutlak sebelum di share. Tapi dengan begitupun, saya harus mendelet posting posting saya lainnya, karena belum tentu disenangi. Kadang saya juga urung memberikan “like” ataupun komen, hanya karena si pemilik status men-setting kan public, sy tidak mau gegara komentar/like saya, berita yang kalian share itu malah ter-blow-up.

Sedangkan kalian, dengan semena-menanya men-share berita yang entah dari mana lah itu kebenarannya…

Ada apa sebenarnya dengan kalian ?

 
Leave a comment

Posted by on July 23, 2014 in Uncategorized

 

Aku Bahagia karena Kau Bahagia

Posting ini mengingatkan saya dengan salah satu kata mutiara yang pernah diucapkan teman lama dengan kalimat sederhananya,

“Rek neangan naon deui atuh di dunia slain kabagjaan”

Yang kurang lebih artinya, memang di dunia teh cari apa lagi sih, selain kebahagiaan. Memang semakin bertambahnya umur, dari hari ke hari semakin kita menyadari bahwa tidak ada hal lain yang ingin kita cari selain kebahagiaan. Dan kebahagiaan ini bentuknya macam-macam dengan definisi yang berbeda beda setiap orang. Pada beberapa orang, definisi kebahagiaan bisa berupa tinggal di luar negeri dengan rizki berlimpah, atau kebebasan dimana mana, bisa juga definisi yang lain, bisa jalan jalan ke berbagai pojok dunia, atau ada juga definisi kebahagiaan yang lain bisa berkumpul dan menikmati bersama orang orang terkasih dimanapun berada.

Semakin bertambahnya umur, semakin jauh kita satu sama lainnya dgn teman zaman kuliah, betapa rasanya tak ada lagi yg diinginkan selain bersyukur dan support untuk mereka semua atas pilihan dan rencana hidup masing-masing. Karena toh, semua orang sudah pasti punya masalah dan tantangannya sendiri sendiri, jadi buat apa kita komentar atau membanding bandingkan pilihan kita dengan pilihan orang lain. It’s just not relevant.

Baru baru ini, seorang senior saya yang sudah lama di US, memutuskan pulang kampung. Anak sulungnya mendaftar di ITB dan alhamdulillah diterima. Status beliau yang membuat saya terharu,

“I am now a proud daddy of a ITB students. Selamat nak, semoga kau diberikah keberkahan yang banyak”

Betapa saya terharu sekali membaca status itu, sebagai bentuk support saya kirimkan message pribadi seperti ini :

image

Barakallah kang ery dan teh lintang sekeluarga. Semoga kasih sayang Allah selalu menyertai.. Aamin..

 
Leave a comment

Posted by on July 17, 2014 in Uncategorized

 

Bangsa yang katanya “Katanya”

Kampanye pilpres ini benar-benar melelahkan, menguras mental, tenaga, dan pikiran..

Saya menyimpulkan negara kita ini sepertinya masih dijajah ya, dijajah oleh bangsa sendiri. dijajah oleh yang namanya “katanya si anu”, tanpa adanya pengecekan atau verifikasi. Mendadak semua orang menjadi hakim agung yang berhak menghakimi orang lain.

Dua kali pemilu saya tidak dapat hak pilih, penyebabnya bukan karena kelalaian manusia, tapi kesengajaan & kebodohan rekan sebangsa saya sendiri. Hahaha.. lucu sekali bukan. Tapi faktanya memang demikian.

1. Pemilu Legislatif 9 April lalu

Saya pindah dari Prancis ke Italy untuk internship. Sudah jauh-jauh hari saya merencanakan untuk meminta surat perpindahan saya ke PPLN setempat agar diberikan hak ikut memilih di Italy dengan dikirimkan surat suara. H-30 saya melapor ke PPLN Roma dengan mengirimkan lewat e-mail. Tapi PPLN Roma yang entah sengaja atau tidak, mencoba berkelit dengan menjustifikasi apa yang dilakukannya itu benar, padahal hal itu menunjukkan kebodohannya karena tidak berlandaskan pada aturan yang berlaku. Tapi malah mengacu pada “katanya” sosialisasi KPU yang bertentangan dengan peraturan KPUnya sendiri. Untuk memperjuangkan suara saya, sekiranya ada 8 kali berbalas e-mail dengan PPLN untuk berdebat untuk hal ini. Tapi yah penegakan hukum Indonesia yang jauh dari asas keadilan, membuat saya hanya menggerutu saja “Da aku mah apa atuh, hanya daun yang coplok dari rantingnya”

2. Pemilu Presiden 9 Juli

Trauma dengan kasus PPLN Roma dan juga keperluan menyelesaikan studi di Prancis, membuat saya ingin mencoblos di Prancis saja. Saya sudah sampaikan hal ini ke PPLN Paris dengan meminta surat suara saya dikirimkan ke alamat teman di kota saya dulu tinggal di Prancis. Lewat jalur komunikasi resmi PPLN, saya kirimkan data diri saya beserta alamat lengkap. Siapa dinyana, ada teman mahasiswa yang jelas-jelas bukan petugas PPLN, mendadak sok sibuk ingin mendata siapa saja yang terdaftar di kota tersebut. Beliau meminta data pribadi saya (data pasport, dsb) untuk didaftarkan di DPTLN Paris, katanya.

Saya sampaikan bahwa saya sudah komunikasi dengan PPLN langsung lewat e-mail soal ini, jadi tidak perlu repot-repot. Lagipula saya agak mulai aware dengan data privacy semenjak saya datang di tanah eropa (maklum, sewaktu melapor diri OFII di Prancis, data diri mulai dari paspor, rekening bank, foto, finger print semua diminta oleh pemerintah setempat yang mengakibatkan agak sedikit paranoid soal privacy ini). Saya pikir ini semua akan berjalan mulus, saya akan dapatkan surat suara saya, saya bisa mencoblos di kamar saya dan semua akan baik baik saja. Tapi, ternyata tidak.

Eh, entah kenapa orang ini menyampaikan ke PPLN kalau alamat rumah saya tidak valid, dan PPLN Paris pun percaya sehingga mereka tidak mengirimkan surat suara saya yang mengakibatkan saya golput lagi kali kedua. Padahal saya sudah jelas-jelas sampaikan data diri saya langsung lho ke PPLN, dengan prosedur yang benar dan legal. Tapi nyatanya PPLN lebih percaya informasi yang ga jelas dan berdasarkan “Katanya”

Maka demikianlah saya golput dua kali di pileg dan pilpres oleh karena KEBODOHAN orang lain. Kalau ditanya apa saya kesal ? Oh tentu saja, kesal sekali. Saya sempat ikut bayar pajak lho sebelum studi kesini. Mulai dari sekarang, pandangan saya tentang Indonesia perlahan berubah. Ini negara apa sih sebenarnya ? Katanya negara hukum, tapi yang dipakai bukan hukum. Informasi informasi yang ga jelas dari orang yang dipertanyakan kredibilitasnya yang malah dipakai untuk jadi sumber dan justifikasi. Kampret lah.

Maka saya katakan, saya pesimis Indonesia akan berubah maju 5 tahun kedepan bila birokratnya hanya mengandalkan prinsip ‘Katanya’ dan “Asal Bapak Senang” seperti ini.
Memang kayaknya juga tidak perlu maju ya Indonesia. Biar saja lah begini-begini saja. Toh, orang-orang didalamnya juga memang tidak mau ada perubahan yang berarti. Sudah mati suri. Tak punya mimpi.

Salam mimpi..

p.s: oh ya, kalaupun nanti saya memutuskan untuk pulang ke Indonesia, tolong dicatat itu bukan karena alasan demi kemajuan negara ataupun romantisme nasionalisme. Tapi lebih kepada rezeki saya ada disana, dan semata-mata ikhtiar saya menjemput rezeki untuk keluarga. Tidak lebih.

 
Leave a comment

Posted by on July 5, 2014 in Uncategorized

 

Demokrasi atau Barbarisme

Hari Solagratia:

Bagus ini. Pembahasan dari sudut pandang teoritik political science

Originally posted on iqra anugrah:

https://www.facebook.com/notes/10152885417563084/

Ada Hantu Bergentayangan – Hantu Orde Baru 

Iqra Anugrah

Sebuah Uraian Tanggung Jawab

KURANG dari dua bulan kita kembali akan menghadapi pemilihan umum presiden (pilpres). Pilpres kali ini begitu menentukan masa depan kita, karena di pilpres kali ini kita menyaksikan ‘hantu’ Orde Baru (OrBa) betul-betul kembali hadir dan bergentayangan – yang secara ‘nyata’ mewujud terutama dalam sosok seperti calon presiden (capres) Prabowo Subianto. Relakah kita menyaksikan demokrasi Indonesia yang baru berumur belasan tumbang kembali karena diganyang oleh anasir-anasir OrBa?

Kira-kira persoalan itulah yang menjadi pikiran saya akhir-akhir ini. Setelah mengikuti perkembangan konstelasi politik seputar pilpres dalam beberapa minggu terakhir, saya berkesimpulan, setidaknya ada sejumlah analisa yang perlu dilakukan untuk membaca realitas politik Indonesia dewasa ini. Pertama-tama, kita perlu menilik pergolakan politik di masing-masing kubu capres – baik Jokowi-JK maupun Prabowo-Hatta – dan menempatkannya dalam konteks yang lebih luas yaitu perkembangan politik Indonesia pasca tumbangnya OrBa. Kedua, kita perlu melakukan…

View original 4,764 more words

 
Leave a comment

Posted by on May 30, 2014 in Uncategorized

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.